Kembali lagi Tanocraft mengadakan pelatihan, pasca pelatihan sebelumnya yang diadakan paa akhir Agustus. Alissa Wahid menjadi pemateri dalam kegiatan ini. Peserta yang hadir kali ini tidak hanya ibu – ibu dampingan Tanocraft, namun juga dihadiri ibu – ibu mantan buruh migran yang menjadi dampingan Tanoker.
Materi komunikasi ini terbagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama adalah komunikasi internal di keluarga dan kelompok. Lalu sesi kedua adalah komunikasi dengan masyarakat termasuk dengan pemerintah desa dan kecamatan. Dalam berkomunikasi antara satu dengan yang lain ini tidak selalu berjalan lancar, bahkan muncul konflik. Sebagai manusia yang memiliki ego, kita butuh persetujuan, pengakuan dan penghargaan. Semua terpusat pada diri sendiri. Sementara sebagai makhluk sosial, kita harusnya bisa saling menguatkan. Untuk saling menguatkan ini, Alissa Wahid mengajak peserta untuk belajar tentang Rekening Bank Emosi. Setiap persentuhan dengan orang lain adalah transaksi penarikan dan setoran. Ini laiknya kita menabung di bank konvensional. Setiap kali melakukan setoran artinya kita memahami, perhatian pada hal-hal kecil, menjaga komitmen, memperjelas harapan, menunjukkan integritas pribadi, meminta maaf bila harus menyakiti orang lain. Sementara penarikan adalah semua lawan setoran. Ada juga setoran khusus, yakni lima bahasa cinta waktu, pelayanan, hadiah, sentuhan fisik, serta kata-kata.
Selain komunikasi dengan orang terdekat, Alissa Wahid juga memberikan materi untuk bisa berkomunikasi dengan calon pembeli serta pemerintah desa atau kecamatan. Sebelum berbicara kita harus yakin pada isi dan tujuan pembicaraan. Jika perlu boleh membawa catatan sehingga pembicaraan bisa terarah. Sangat perlu untuk menarasikan pembicaraan sehingga untuk membuat audiens merasa “nyambung”. Rasa grogi, takut, atau bingung akan hilang seiring dengan semakin seringnya kita berkomunikasi.




